jauh sebelum garis peta diberi garis – untuk siapa?—
mereka ungkai tafsir-tafsir butir darah
senyampang asab bedil kabut tipis
tak lebih hanya sebatas pembeda: kau dan aku
teriak dan bungkam sekalipun di ujung rencong
kami bersikap: tak lebih karena itulah sikap
lalu semua berjalan masing-masing dengan nyawanya
sang sakti tak mengais di sarung rencong
mulut sipangkalan cibir detak jantung tamu
dan menebar kematian dini – untuk siapa?—
rencong menitis dendam
tak juga kembali ke sarung
di
beri catatan yang tewas
di depan televisi mereka basahi dengan darah bintang empat di bahu
:senyinyir-nyinyirnya berdalih, di matanya sejuta anak menangis
siapa orang itu?
Djohan Riduan Hasan Menerima Kalpataru 2010
-
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE Micro...
1 year ago



0 comments:
Post a Comment