Tuesday, August 26, 2008

Menyingkap Peta Sastra di Bangka Belitung: Dari Hamidah ke Hidayatullah

OLEH Sunlie Thomas Alexander

Gedung wanita Hamidah yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung pada saat-saat tertentu memang tampak sedikit bergengsi dengan diselenggarakannya acara wisuda mahasiswa, seminar-seminar, diklat, pentas musik, peragaan busana, pemilihan model remaja, sampai resepsi pernikahan anak pejabat di sana. Paling tidak bila kita harus melihat tempat-tempat atau jalan yang memakai nama sastrawan seperti yang pernah diungkapkan oleh Prof Dr Budi Darma dalam sebuah tulisannya di majalah sastra Horison. Taman Chairil Anwar di Jakarta, misalnya, di malam-malam biasa tak lebih menjadi tempat nongkrong para perempuan penjaja cinta (yang kelas pinggir jalan)!. Atau Jalan Chairil Anwar dan Ronggowarsito di Surabaya yang terletak tidak jauh dari dua kawasan pelacuran terkenal.
Meskipun masih perlu dipertanyakan apakah pemberian nama gedung yang sering dipergunakan untuk pelbagai acara resmi itu sebagai sebuah penghargaan bagi dunia sastra, ataukah karena pulau Bangka memang tak punya lagi stok tokoh wanita yang lain?
Justru di saat masyarakat Bangka sendiri pada umumnya tidak lagi mengenal siapa sebenarnya sastrawati asal Mentok yang bernama asli Fatimah Hasan Delais itu. Apalagi untuk mengenal karyanya. Bahkan tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa sebenarnya selain romannya yang terkenal, Kehilangan Mestika (1938), sastrawati Angkatan Balai Pustaka itu juga seorang cerpenis dan penyair. Karya-karyanya yang berupa cerpen dan puisi boleh dikatakan hampir tidak bisa ditemui lagi. Upaya untuk menggali jejak Hamidah sendiri pun, seperti yang sedang dilakukan oleh penyair Ira Esmeralda hingga kini tidak pernah jelas bagaimana kabarnya.
Sepeninggalan sastrawati yang juga seorang pendidik itu, dunia kesusastraan di Bangka-Belitung seolah tenggelam di tengah hiruk pikuknya dunia sastra di Tanah Air. Meskipun Belitung kemudian melahirkan Sobron Aidit (Sobron Aidit, adik tokoh PKI DN Aidit, meninggal di Paris, Prancis, pada Sabtu, 10 Februari 2007 pukul 09.00 pagi waktu setempat atau pukul 15.00 waktu Indonesia-Red), namun tokoh itu seperti yang kita ketahui selama puluhan tahun diasingkan dari negerinya sendiri. Sampai tahun tujuh puluhan sampai delapan puluhan, barulah muncul nama-nama seperti Amirrudin Jafar yang beberapa karya cerita rakyatnya pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka. Juga Suhaimi Sulaiman yang sekarang lebih dikenal sebagai seorang budayawan Pangkalpinang.
Namun karya-karya mereka yang berupa cerpen dan puisi pun tidak terangkat ke permukaan karena disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tidak adanya media massa yang representatif di Bangka-Belitung dan juga semacam keengganan untuk mengirimkan karya ke media massa luar daerah karena pemikiran karya-karya mereka yang lebih didedikasikan kepada pembaca lokal akan sulit disosialisasikan. Disebabkan oleh kesulitan masyarakat terutama di luar Pangkalpinang untuk mendapatkan koran atau majalah. Atau karena memang masyarakat rabun membaca? Masalah yang terakhir ini sampai saat ini pun tampaknya masih menjadi dilema tertentu bagi para pekerja sastra Bangka Belitung lainnya. Di samping susahnya menembus media luar, terutama media ibukota, yang seringkali masih memandang sebelah mata pada nama-nama baru atau mempunyai misi yang sulit dikompromikan sebagai sebuah industri kapitalisme.
Hal inilah, yang antara lain membuat para pekerja sastra Bangka Belitung seakan menutup diri. Meskipun pada tahun-tahun belakangan ini secara kuantitas harus diakui, penulis dan karya-karya sastra berupa cerpen dan puisi yang dilahirkan meningkat pesat bersamaan dengan hadirkan media massa daerah (baca: lokal). Demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sastra yang digulirkan walau hanya sempat terekam oleh media cetak daerah tersebut.

Kebangkitan sastra Bangka-Belitung
Barangkali, Willy Siswanto, penyair dan cerpenis kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, yang pada tahun 1996 menerbitkan sendiri buku kumpulan puisinya yang pertama, Nyanyian Taman Zaitun dapat dikategorikan sebagai salah satu penggerak awal kebangkitan sastra di kedua pulau yang di zaman Belanda menjadi sebuah karesidenan sendiri ini. Penyair yang pada permulaan kepenyairannya sering menulis di Tabloid Media Guru terbitan Palembang ini, memang seorang penulis yang cukup produktif dan sering menjadi motor dan motivator bagi perkembangan sastra di Bangka Belitung hingga saat ini. Tentu saja tidak dapat dilupakan juga nama-nama lain seperti Ian Sancin dan cerpenis Surtam A Amin. Mereka sudah sejak lama tanpa dikenal oleh masyarakat Bangka-Belitung, menulis di pelbagai media cetak luar termasuk Jakarta. Meskipun masih amat minim, tetapi pada tahun-tahun ini, iven-iven sastra mulai sering diadakan, seperti lomba baca puisi atau cerpen dan lomba cipta puisi.
Selain itu, juga muncul rubrik-rubrik “Seni Budaya” yang memuat cerpen dan puisi di majalah Stannia, milik PT Timah Tbk, Citra Publika milik Pemerintra Kota Pangkalpinang, atau majalah Berkat yang merupakan media komunikasi umat Katolik di wilayah Keuskupan Pangkalpinang.
Peranan Media Cetak Daerah
Harus diakui, hadirnya media cetak daerah di Kepulauan Bangka Belitung pascareformasi seiring dengan disahkannya undang-undang otonomi daerah, yang cukup kompetitif pada awalnya, ikut menyumbangkan peranan yang sangat berarti bagi perkembangan sastra di Bangka Belitung. Berbagai media cetak tersebut dengan halaman budayanya, walaupun dengan honor yang kecil, cukup menggugah para penulis sastra baik yang sudah eksis maupun yang pemula untuk berlomba-lomba mengirimkan karyanya. Bahkan dari media-media ini, kemudian muncul penulis-penulis sastra muda yang berbakat.
Terbitnya media massa daerah dengan halaman budayanya ini, kemudian juga dimanfaatkan sebagai wahana perjuangan provinsi oleh para pekerja sastra seperti A Toni, Tarmizi Jemain, atau Rustam Robain dengan Gurindam 10-nya yang kontroversial dan mengundang polemik dari berbagai pihak karena dinilai keluar dari pakem gurindam yang selama ini dikenal dalam sastra Indonesia dan menjadi trade mark Raja Ali Haji. Hingga terbentuknya Provinsi Bangka-Belitung, 21 Nopember 2000, tema-tema seputar provinsi baru tersebut selalu menjadi tema yang hangat digarap oleh para pekerja sastra di negeri Serumpun Sebalai ini.
Dari kehadiran media cetak daerah inilah, nama-nama seperti Willy Siswanto, Ian Sancin, Surtam A Amin, Eka Suasa, Agustinus Wahyono, Heru Herlambang, Zainal Abidin, A Toni, Ira Esmeralda, Fahrurrozi, SL. Thomas Alexander, Zazuli Zamzam, Sobirin Hatip, Mammaqdudah, atau yang lebih belakangan Wahar Saxsono, Adek Jumiatno, Peter Siswanto, Dedi Priadi, Mustafa Kamal, Wani Gerhana Sari, Romar Friana, Sukma Wijaya, Prakoso Bhairawa, dan M Hidayatullah mulai dikenal dengan karya-karya mereka yang cukup variatif.
Ian Sancin, misalnya, dengan puisi-puisinya yang bercorak sufistik-profektik, lebih banyak mengangkat persoalan sosial budaya lokal. Sedangkan Willy Siswanto dengan ‘sajak-sajak refleksi’-nya yang meskipun sering berkiblat ke Jawa, juga kerap mengemukakan persoalan-persoalan daerah secara militan. Hal yang sama juga ditemukan dalam sajak-sajak Tarmizi Jemain, Suhaimi Sulaiman, dan Sobirin Hatip. Sedangkan Peter Siswanto lebih banyak melirik permasalahan aktual dan politik sebagai tema garapan sajak-sajak maupun cerpennya. Dan Ira Esmeralda rajin sekali mengangkat permasalahan gender.
Yang menarik adalah berkiprahnya nama-nama Wani Gerhana Sari, Prakoso Bhairawa Putera, Martin d’Marcel, Farizandy, dan M Hidayatullah yang notabene saat pertama kali menulis masih tercatat sebagai pelajar SMU dengan karya yang tak dapat diremehkan. Bahkan puisi-puisi karya M Hidayatullah berhasil menembus media cetak ibukota seperti Media Indonesia.
Tidak dapat dilupakan juga sosok seorang penyair tua tunanetra di Mentok, Ahmad Daud, yang pernah menjadi finalis “Lomba Cipta Puisi Tunanetra Tingkat Nasional”, yang masih aktif menulis hingga saat ini di berbagai media cetak daerah. Atau mungkin juga nama-nama penyair dan cerpenis dari Bangka Belitung yang berdomisili di luar daerah seperti Linda Christanty dan Syekh A Sobri. Mereka secara intens terus mengangkat karya-karya yang bertemakan social-culture kedaerahan sebagai sebuah jatidiri di berbagai koran nasional.
Peranan media cetak daerah ini, terutama harian pagi Bangka Pos (Grup Kompas-Gramedia) dengan halaman budayanya yang pada mulanya dikawal oleh penyair muda Palembang, Nurhayat Arif Permana sebagai redaktur budaya, kemudian juga mencetuskan ide sebuah wadah silahturrahmi (baca: rumah) yang terbuka bagi siapa saja yang berminat pada sastra untuk sekadar singgah dan duduk bersama berkarya, yang kemudian dikenal sebagai Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB). Kelompok yang dideklarasikan pada tanggal 3 Oktober 1999 di kantor redaksi harian Bangka Pos, di Pangkalpinang ini dengan agenda yang cukup komplet mencoba mengangkat sastra sebagai sebuah seni pencerahan (enlighting art of literature) dan wahana perjuangan humanisme universal demi kepentingan edukasi sosial dan memperkenalkan eksistensi sastra Pulau Bangka ke dalam maupun keluar daerah.
Beragam agenda sosialisasi dan apresiasi karya sastra yang digulirkan kelompok ini, dengan sasaran utama kaum pelajar kemudian mendapat tanggapan dan dukungan hangat, baik secara finansial maupun moril yang cukup menggembirakan dari banyak pihak: pemerintah daerah, swasta, maupun individual. Termasuk kegiatan Safari Sastra yang digulirkan sepanjang tahun 2000 dengan mengunjungi 30 sekolah SLTP/SMU di Kabupaten Bangka, yang didukung penuh oleh PT Timah Tbk dan PT Kobatin, dua perusahaan pertambangan timah terbesar di Pulau Bangka. Sayangnya, untuk Kota Pangkalpinang, kegiatan ini tidak mendapatkan respons positif dan rekomendasi dari Dinas-dinas Pendidikan Nasional yang barangkali menyimpan ketakutan bahwa murid-muridnya akan diprovokasi untuk kepentingan tertentu.
Upaya lain yang dilakukan oleh para pekerja sastra yang tergabung dalam KPSPB ini adalah penerbitan buku antologi sajak para penyair Bangka Belitung, Lagu Putih Pulau Lada, yang diterbitkan pada tahun 2000 oleh Yayasan Ak@r, sebuah yayasan pengembangan seni budaya yang didirikan oleh Willy Siswanto, Ian Sancin, Heru Herlambang, Sobirin Hatip, dan Nurhayat Arif Permana untuk menaungi beberapa kelompok kesenian di provinsi kepulauan ini seperti KPSPB, Kelompok Pelukis Bangka (Kopika). Teater Rakyat Solidaritas, dan Teater Kelekak.
Lalu juga terbitnya majalah budaya LAWANG pada tahun 2001, yang diasuh oleh Willy Siswanto, SL Thomas Alexander, Suhaimi Sulaiman, dan Ismail Muridan, sebagai media alternatif yang mengedepankan jurnalisme seni dan mengangkat budaya lokal termasuk sastra tradisional.
Prospek Sastra di Bangka Belitung

Melihat animo dan apresiasi masyakarat baik dari berbagai acara/kegiatan sastra yang pernah digulirkan maupun dari tingkat kuantintas karya-karya sastra yang lahir lima tahun belakangan ini, meskipun masih jauh dari harapan, tetapi agaknya masa depan perkembangan sastra di provinsi kepulauan ini akan cukup menggembirakan. Di masa yang akan datang, khalayak sastra Bangka Belitung terus berupaya banyak dalam mensosialisasikan sastra dan bagi dunia sastra di Tanah Air. Minimal, kegiatan-kegiatan apresiasi dan revitalisasi sastra yang selama ini digulirkan oleh KPSPB dan pihak-pihak lainnya sedikit banyak mendapatkan hasil, antara lain dengan bertambahnya minat para pelajar untuk mencoba menulis dan mengirimkan karyanya ke media cetak daerah. Walaupun secara kualitas tentu saja tidak mudah untuk segera memetik hasil.
Bagaimanapun para pelajar adalah akses yang amat berharga demi masa depan bangsa, dan sastra sebagai sebuah seni intelektual yang selalu memberikan penghargaan kepada manusia sebagai manusia apa pun status, agama, ras, suku, dan ideologinya, mengusung pembangunan moralitas, dan–meminjam Cecep Syamsul Hari–menjadi medium pembelajaran demokrasi, meskipun tidak mesti dibesar-besarkan, amat dibutuhkan tidak hanya demi perkembangan sastra sendiri sebagai karya literature yang berbicara tentang hidup dan masa depan manusia yang lebih baik.
Penyair Taufiq Ismail pernah mengatakan, kondisi bangsa dan Tanah Air tercinta yang terpuruk dalam krisis multidimensional yang berkepanjangan ini, salah satu penyebabnya adalah realitas masyarakat yang rabun membaca dan buta menulis. Dengan hasil penelitian amat memprihatinkan yang pernah dilakukannya secara snap shot pada SMA di 13 negera, menunjukkan Indonesia berada di peringkat paling bawah dalam hal jumlah buku sastra yang diwajibkan kepada para pelajar untuk dibaca: nol judul! n

Penulis sastrawan, kini sedang menempuh pendidikan di Jokjakarta

Friday, August 8, 2008

Wawancara Eksklusif dengan Emha Ainun Nadjib

Bangsa Indonesia Butuh Intervensi Tuhan
Pengantar

“Penyakit” bangsa Indonesia sudah masuk tahap stadium paling parah. Komplikasi. Termasuk dalam jajaran kekuasaan. Penyakit itulah yang menggerus nilai-nilai kejujuran. Sehingga rakyat Indonesia semakin sulit berlaku jujur, sulit menanamkan keikhlasan. Malah, yang paling mudah berkembang biak itu adalah fitnah. “Bangsa kita sedang sakit parah. Komplikasi. Untuk mengobatinya, kita butuh intervensi Tuhan,” kata Can Nun.
Secara jujur dan terbuka, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, membentangkan semua aspek yang menelikung penyakit bangsa ini, termasuk mentalitas pemimpinnya. Tanggal 2 Agustus, pekan lalu, Cak Nun bersama Komunitas Musik Kiai Kanjeng melakukan pertunjukan musik dalam rangka ulang tahun PT Timah yang ke 32 di kampus Polman UBB, Sungailiat. Di sela-sela istirahatnya, Endang Kurniawan melakukan wawancara eksklusif dengan Cak Nun. Berikut petikannya.

Setelah reformasi 1998, tampaknya Anda menghindar dari panggung hiruk pikuk politik, dan terkesan Anda kecewa dengan kondisi itu?
Ya, saya kan umurnya terbatas. Saat reformasi bergulir, saya berada di pusaran reformasi itu. Fakta-fakta mengenai reformasi, menurut saya, juga tidak terungkap kepada masyarakat secara substansial. Selanjutnya, bangsa kita tidak cukup jujur dalam memahami reformasi. Bukan bahasanya tidak jujur, tapi tidak diberikan informasi yang akurat mengenai apa yang terjadi pada 1998 itu. Saya tidak mempunyai media dan media juga kurang berminat untuk mengali sunguh-sungguh sejarah reformasi itu. Jadi, saya melihat, sisa usia saya tidak mungkin cukup untuk melakukan rekaveri seperti itu. Jadi, ya saya sekarang menikmati hidup saya. Kalau Indonesia monggolah (silahkan saja) begitu.
Bagaimana komentar Anda dengan kondisi Indonesia yang masih terkungkung dari deraan krisis multidimensi ini?
Saya kira, kita sungguh-sungguh berada di dalam satu cengkraman global desain yang tidak ada satu pihak pun dari pelaku-pelaku sejarah Indonesia yang merasa punya kepentingan atau apalagi militansi untuk memahami itu. Sehingga, mereka hanya menjadi pemain-pemain kelas dua dan kelas tiga yang tidak sungguh-sungguh mengerti apa yang mereka mainkan. Kita ini hanya mencari keuntungan-keuntungan lokal di sekitar kegiatan kita masing-masing. Begitu lho. Jadi Indonesia ini tidak memahami dirinya dan tidak tahu di mana dirinya berada. Dunia sedang berkembang ke mana? Polarisasi yang terjadi itu apa? Perang dingin yang terjadi itu apa? Semua itu tidak dipahami benar, dan tidak ada kelompok yang sungguh-sungguh memahami itu karena tidak berkepentinggan. Yang penting dapat untung dan selesai.
Sebetulnya, apa sih yang salah dari negeri ini, pemimpinnya atau rakyatnya?
Dulu pemimpinnya, tetapi sekarang sudah berbareng rakyatnya juga salah. Rakyat juga sekarang ini sudah tidak sanggup lagi untuk jujur terus. Sudah tidak sanggup untuk tidak ikut rakus, untuk tidak ikut semua penyakit-penyakit jiwa yang selama ini ada, ya sudah tidak sanggup. Kecuali orang-orang yang hidup di dalam satuan-satuan institusi ekonomi yang tidak terlalu terganggu. Tetapi kalau rakyat umum dalam arti sipil, ya, setengah mati untuk mempertahankan kejujuran, mempertahankan ketidakcurangannya, tidak nyerobot, untuk tidak ikut maling.
Apa jalan keluar yang paling baik yang harus dilakukan pemimpin bangsa ini?
Tidak ada, kecuali intervensi Tuhan. Sudah tidak mungkin diselamatkan. Hanya intervensi Tuhan yang diperlukan. Kalau Tuhan tidak intervensi, ya kita tinggal taruhan mengenai berapa lama hancurnya bangsa ini. Tapi bangsa kita ini adalah bangsa yang tangguh, yang hancurnya pelan-pelan. Lho itu betul.
Siapa yang semestinya bertanggung jawab atas kehancuran bangsa ini? Budayawan seperti Cak Nun kah, atau pemimpin yang berkuasa sekarang?
Yang pasti saya tidak bertanggung jawab atas semua itu. Saya tidak diberi tangung jawab kok. Saya orang biasa. Saya tidak dibayar oleh siapa-siapa. Jadi saya tidak mempunyai kewajiban apapun. Ya silahkan harus bagaimana, cuma saya harus menyelamatkan masa depan anak-anak saya. Mereka harus saya siapkan. Harus menjadi orang yang siap hidup di tengah situasi yang sudah bisa kita hitung sejak sekarang.
Anak-anak di sini dalam konteks Cak Nun atau anak-anak bangsa?
Ya anak-anak saya sendiri dong dan anak-anak dari komunitas saya. Lah kalau anak bangsa bagaimana seluas ini. Orang Indonesia itu ditolong belum tentu berterima kasih. Ditolong malah memfitnah. Contoh coba Anda memberi makan pengemis setiap pagi selama 3 bulan saja, setiap pagi diberi 1 bungkus makanan saja. Nanti pas bulan ke 3 Anda tidak memberi selama 2 hari saja, Anda difitnah macam-macam. Gara-gara 2 hari tidak memberi makan kepada pengemis tadi, malah bukan berterimakasih selama ini sudah diberi makan. Dan semua itu betul-betul sudah saya alami. Jadi sekarang, saya tidak berani menolong rakyat. Demi Allah, saya tidak berani menolong rakyat. Rakyat malah balik memfitnah, ngomong yang tidak-tidak. Naudzubilahminzalik, saya tidak berani menolong rakyat.
Apakah anak-anak Cak Nun, tidak ada yang tertarik mengikuti langkah orangtuanya?
Jangan ada yang menerusin saya, sengsara nanti. Jangan. Anak saya jangan nerusin saya. Anak saya punya sejarah sendiri dan harus berdasarkan prosesnya sendiri. Jangan sampai hidup seperti saya, sengsara. Jadi menteri tidak, mesti jadi presiden tidak. Punya mobil difitnah. Sengsaralah pokoknya.
Padahal bangsa ini sangat membutuhkan orang seperti Cak Nun?
Begini lho orang Indonesia itu, dia melarang saya bertanam padi, tapi kalau dia tidak bisa makan, dia minta nasi kepada saya. Tapi saya tidak boleh menanam padi..ha...ha...ha. Orang Indonesia itu tidak ada yang ikhlas. Dan itu normal kalau orang Indonesia itu tidak ikhlas. Karena selama mereka merdeka tidak pernah terpenuhi hak-hak dasarnya. Jadi kita didik jadi orang yang tidak ikhlas.
Apakah Cak Nun merasa bangga menjadi warga negara Indonesia?
Bangga saya. Oh bangga sekali. Tapi Indonesia dalam pemahaman yang tadi saya omongkan. Bangsa yang besar. Bangsa yang tangguh. Mentalnya luar biasa dan saking hebatnya, binggung mau ngapain.
Korupsi salah satu penyebab hancurnya negeri ini. Tapi kini, korupsi kian menjadi, malah terkesan tidak tuntas ditindak. Selain itu, haruskah diterapkan hukuman mati bagi pelaku koruptif?
Korupsi itu output buka input. Dan Anda tidak bisa membenahi dari moral. Korupsi itu soal mental. Kalau moral sudah tahu semua baik-baik saja kan. Koruptor itu kan sopan. Mereka baik kepada tetangganya, baik kepada anak istrinya. Jadi takmir masjid juga sering memberi uang buat masjid. Jadi secara moral, mereka baik-baik saja, tetapi mentalnya yang kurang ditata.
Menurut Cak Nun sendiri moral dari pemimpin kita ini bagaimana?
Mereka baik-baik. SBY baik. Megawati baik. Masalahnya bukan moral, tetapi mentalnya dan ilmu. Mesti intelektual. Jadi kayak SBY, dia tidak konekting antara A dan B di dalam otaknya. Bagaimana bisa konek, mahasiswa sampai masuk rumah sakit karena digebukin oleh polisi. Lah dia kok malah asik bersepeda ria. Itukan tidak konek otaknya. Mestinyakan dia malu kok sempat-sempatnya bersepeda ria. Rakyatnya pada tidak beres, sengsara. Dia kok senang-senang seperti itu. Itu bukan berarti dia orang jelek tetapi ilmunya yang tidak konek.
Bangsa ini terkesan bebal, apakah Anda setuju dengan sebutan itu?
Bangsa kita tidak bebal. Bangsa kita itu tidak mempunyai landasan untuk tidak bebal. Sekarang antre di mana-mana saja orang nyerobot. Kok saya disuruh antre, begitu lho.
Kini, tampaknya, politik dagang sapi dengan menghalkan segala cara masih menguat. Apakah ini terkait dengan mentalitas politisi?
Inikan sepertinya penyakit yang komplikasi. Jadi kalau sudah sakit kayak efek domino, semakin menjalar, tidak bisa potong satu. Jadi kalau mau menjadi politisi jujur itu kita bisa masuk penjara. Kalau peraturannya berubah, Anda bisa salah, seperti perumpamaan main pimpong, dulu gamenya 21. Sekarang pimpong gamenya 15. Kan salah semua yang 21 dulu.
Ini terkait dengan dunia sastra: Apakah komentar Cak Nun dengan dunia sastra Indonesia saat ini?
Sebaiknya saya tidak usah menilai karya orang lain. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa saya sekarang terseret untuk kembali ke situ. Jadi sebentar lagi saya siap menerbitkan kumpulan puisi-puisi saya yang baru.
Adanya kesan bahwa dunia sastra cenderung vulgar dan mengumbar syahwat, dan itu dipelopori oleh penulis dari kalangan perempuan, apa komentar Anda?
Ya orang dengan perhatiannya sendiri-sendiri. Ada yang memperhatikan Tuhan. Ada yang memperhatikan seks. Ada yang meperhatikan macam-macam, ya silahkan saja. Saya tidak mau berdebat di situ. Itu namanya dunia tafsir. Itu namanya demokrasi.
Apa yang paling mengesankan bagi Anda tentang Bangka Belitung?
Ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Bangka Belitung. Saya kalau masuk di suatu daerah itu sangat senang dan merasa mempunyai harapan cukup besar untuk Indonesia Mumpung Bangka Belitung ini belum jadi Jakarta. Belum jadi Pulau Jawa. Tolong dijaga. Kalau sudah menjadi Pulau Jawa, kacau jadinya. Jawa itukan berkembang tanpa desain. Berkembang tanpa transformasi tertata, tidak substansial langkah-langkahnya. Potensi-potensi yang ada di Jawa sudah tidak ada. Yang susahnya, orang luar Jawa berlomba-lomba datang ke Jawa.
Katakanlah buku tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, ternyata mampu mempertegas posisi Bangka Belitung. Apakah Anda setuju hal itu?
Saya belum baca tentang buku itu. Jadi saya tidak bisa beri komentar, tapi saya sangat percaya kepada lokaljenius, kepada kekuatan lokal. Sekarang ini kita harus berpikir pascaglobal. Jadi pertumbuhan sastra dengan khasanah lokal, tetapi dia membunyikan khasanah global.
Apa yang akan Anda katakan tentang kasus Lapindo, kasus BLBI dan korupsi di tingkat penegakan hukum?
Untuk Lapindo tidak ada hubungannya dengan hukum. Kalau dihubungkan dengan hukum penduduk harus menanti proses hukum. Bisa mati mereka kalau menanti proses hukum. Jadi sekarang juga harus dibayar. Siapa yang bisa menyatakan kalau Lapindo bersalah kalau bukan hukum? Tanggung jawab apa? Kalau tanggung jawab moral, semua dong yang berkewajiban. Inikan orang yang tidak tertib berpikirnya. Saya menguasai seratus persen soal Lapindo dengan segala fitnahnya. Saya ingin diadili soal Lapindo. Saya senang itu. Dari pada main internet sama juga main lempar batu dari jauh. Itu sama saja permainan orang yang pengecut. Alasannya hanya berani menulis seenak udelnya saja tetapi tidak berani menampakan jati dirinya, wajahnya, mukanya!
Kalau BLBI itu sama saja. Ya mau bagaimana memang negara ini aneh. Seperti pemberian bantuan lansung tunai (BLT), benar atau tidak BLT itu? BLT itukan kurang ajar banget. Yang namanya membantu itu kan orang yang mempunyai duit, membantu orang yang tidak mempunyai duit. BLT itu duit siapa? Yang diterima oleh rakyat itu duit siapa? Itukan duit rakyat. Lah kok pemerintah mengaku-ngaku duitnya. Jadi di sinikan pemerintahnya yang kurang ajar.
Apa yang akan Anda katakan tentang kinerja SBY-Kalla?
Ya kita harus jalani. Kita harus mempunyai dia (SBY-Kalla) dalam hidup ini kita harus mempunyai tahap. Kita harus mempunyai mereka. Seumpamanya kalau di Jawa itu kita harus memberi sesajian diperempatan jalan, meskipun itu dewanya tidak mau memakan itu, kita juga tidak enak untuk memakan itu, ya mau bagaimana lagi. Tetapi mereka belum pemimpin sama sekali.
Selain itu pula, apa komentar Anda tentang “Tragedi Monas” yang melukai banyak orang dan pelbagai pihak saling klaim?
Sampai sekarang tidak bereskan? Tidak dapat kesimpulan. Tidak dapat ilmu. Tidak dapat kearifan. Tidak dapat informasi. Begitulah Indonesia. Anda tahu tentan AKKBB, FPI, ya tahunya tidak banyakkan? Tahunya Habib Rizieq hanya suka kekerasan kan? Makanya yang paling nomor satu adalah mencari tahu. Jadi ada semacam jurnalisme semi investigatiflah. *

Biodata
Emha Ainun Nadjib (lahir di
Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953), adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung nafas islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi.
Lima tahun hidup menggelandang di
Malioboro Yogya antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat
Padang Bulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung.